Tari Kuda Lumping atau Tari Jaran Kepang

Seni Tari Tradisional -  Tari Kuda Lumping atau Tari Jaran Kepang

Sejarah Tari Jaran Kepang atau Kuda Lumping

Tari ini sangat populer di tanah air Indonesia ini, selain unsur seni tetapi ada unsur mistiknya juga sehingga masyarakat sangat senang dengan pertunjukan Jaran Kepang ini.

Alkisah dizaman dahulu kala ditanah jawa hiduplah seorang raja nan sakti mandraguna. Raja yang banyak mendengar kisah kepahlawanan mahabrata.beliau sangat kagum akan kisah perang bharatayudha di kurusetra yang dituturkan oleh para brahmana dan ksatria istana, dan raja yakin perang bratayudha akan berulang ditanah jawa. Beliau sangat tertarik tentang tentara berkuda dan arjuna dengan kereta kudanya yang gambarnya dibawa oleh buyutnya dari tanah alengka karena beliau sesungguhnya keturunan pelarian hindu tamil dari tanah alengka (sri langka) negeri yang kini murtad memeluk agama budha lantaran negerinya sering diejek sebagai negeri rahwana terkutuk. Eyang buyut sang raja hindu melarikan diri ketanah jawadwipha dan mendirikan kerajaan dan memakai gelar aria sebuah suku bangsa terkemuka dari tanah india tetapi sayang kulit beliau yang gelap kalau tak mau disebut hitam legam jadi penghalang untuk membedakan warna kulit dan beliau mengajarkan kasta tanpa warna sampai kesang cucu yang kini memegang tampuk pemerintahan dan menghayalkan punya pasukan berkuda.


Rajapun membuat sayembara kepada siapa yang tau banyak tentang bagaimana pasukan berkuda.Hal tersebut didengar oleh pedagang persia yang kemudian menghadap baginda sambil membawa gambar gambar pasukan berkuda persia yang kelihatan gagah perkasa.


"wahai tuanku raja jawa yang mulia sebaiknya baginda ikut hamba kenegeri hamba dan melihat dan melihat sendiri agar tidak penasaran dihati dan mengetahui bahwa semua bukan sekedar gambar khayal sang pelukis".

Raja membenarkan dan ringkas kata berangkatlah raja disertai hulu balang dan pengawal serta menteri naik keperahu saudagar persia. Karena raja jawa tidak punya perahu dan buta ilmu pelayaran.mereka mengarungi samudra sampai akhirnya tiba di bandarpersia. Beliau terpana oleh indahnya bangunan arsitektur persia nan indah dan megah. Beliau terpesona oleh gagahnya tentara berkuda yang bukan hanya tentaranya tetapi kudanya juga besar besar. Barisan berkuda yang teratur dengan derapnya yang membuat raja tercengang. Ternyata kenyataan lebih hebat dari gambar yang dibawa sangsaudagar. Raja memuji dan menghayalkan kalau saja aku punya tentara berkuda seperti ini tentunya akulah raja terkuat di jawa dan raja-raja sekitarku akan bertekuk lutut.puas melihat raja pun meminta diantar pulang dan ingin membawa kuda-kuda dan kalau bisa menyewa tentaranya sekali.


"bagaimana baginda mau membawa kuda?bukankah baginda dan hulubalang serta menteridan para pengawal sudah memenuhi perahu hamba"kata sang saudagar.
"bahkan isteri hambapun masih hamba tinggal dipulau kosong demi paduka karena kapal sudah terlalu penuh muatan"lanjutnya.


Maka diaturlah kuda akan dibawa oleh perahu lain sedangkan tentara persia tidak mau bekerja di tanah jawa mereka tidak doyan pecel dan rempeyek apa lagi tempe. Tetapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih ditengah samudra datanglah badai yang dahsyat. Baginda raja pusat pasi serta pasukan tak berdaya perahu pengangkut kuda tenggelam dengan keberuntungan beliau selamat dan setelah badai reda perjalanan dilanjutkan ketanah jawa setelah tiba ditanah jawa baginda menggelar selamatan dan sykuran pada dewata yang telah melindunginya dan menyesalkan impiannya tentang pasukan berkuda belum terwujud.beliau pergi ke gua untuk bertapa dan mohon petunjuk dewata. Beliau mendapat ilham atau wangsit dimana beliau mendapat kedua keinginan yakni kuda dan tentaranya sekaligus dimana orang jawa bisa jadi kuda dan tentara dimana dalam wangsit beliau harus membuat kuda dari gedek bambu dan ijuk serta dan bisa ditunggangi lasykar yang akan jadi kuda.

"suatu solusi atau jalan keuar yang sangat bagus"  kata sang raja dalam hati.

Maka diperintahkanlah bikin kuda gedek dan ditunggangi sebelum jalan kuda dibacakan mantra-mantra agar mau makan rumput bahkan makan beling kalau rumput tiada. Sang raja pun turut menari nari kesenangan semua impian terwujud dan sejak itu kuda gedek jadi kuda populer sampai saat ini. Dimana mana ditanah jawa bahkan menyebar ke malaysia kuda gedek alias kuda lumping alias kuda kepang alias jaran kepang alias reogjhatilan dan entah apa namanya lagi sangat digemari.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Seni Budaya Indonesia © 2011 | Template by Blogger Templates Gallery collaboration with Life2Work